Browse > Informasi Alumni > Testimoni dari Bpk Sudiyanto Alumni Duta 23 untuk Stembatema

Testimoni dari Bpk Sudiyanto Alumni Duta 23 untuk Stembatema

Testimoni ini dikirmkan oleh Bpk. Sudiyanto (Duta 23). Saat ini dia menjabat sebagai QAQC DeptHead - PT Garudafood Putra-Putri Jaya, Div Biskuit Gresik.  M+081515159095/08819008713

Lebih dalam.

Saya dilahirkan disebuah dusun terpencil, didaerah kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang. Keluarga saya 6 bersaudara, 1 Cewek 5 cowok. Kebayang waktu kecil suka berkelahi rebutan makanan.. Ibu Bapakku seorang Buruh tani, yaitu seorang  pekerja tani ditanah milik orang lain. Sebagai seorang buruh tani, penghasilan kedua orang tuaku tidak lebih dari cukup, bahkan sangat kurang. Untuk makan anak2 nya saja kadang tidak cukup. Seringkali ketika pagi hari, bapak tidak makan sama sekali, karena memang tidak ada yang dimakan. Sisa nasi kemarin, biasanya kami habiskan dengan saudara-saudara saya. Pernah satu hari, kami belum bisa makan sampai sore hari. Kami baru bisa makan, ketika ibuku membawa gabah hasil” Ngasak” di sawah orang lain. Gabah itu disangrai sampai kering, baru di tumbuk” tutu” untuk memisahkan antara beras dan Kulitnya. Tapi karena gabah itu kering bukan karena dijemur, tapi dipaksa kering dengan disangrai, maka bukan beras yang didapat, tapi menir.

Menir itulah yang kami tunggu-tunggu bisa kami makan. Ibu, dengan segala sisa tenaganya terus saja menumbuk, sepertinya dia lupa bahwa dia sangat lelah karena  baru saja pulang mencari gabah itu. Selesai Menir itu dipisahkan dengan kulitnya, maka waktunya menir itu di masak. Pada waktu itu, menirnya di masukan ke dalam Kwali yang besar dan dikasih air sangat banyak. Dipanasi sampai mendidih dan diaduk-aduk sampai mateng. Karena Berasnya sedikit, dan dikasih air sangat banyak, maka kami bukan makan nasi, atau bubur. Kami makan Jenang yang sangat encer. Baru jam 5 Sore, perut ini terisi dengan Nasi Lembek ala Jenang bikinan Ibu. Karena waktu itu saya masih sangat kecil, saya kebagian paling belakang. Saking tidak kuatnya menahan lapar, Jenang yang masih panas tadi saya masukan kedalam mulut. Tapi ternyata mulut saya tidak kuat, jenang tadi jatuh dan mengenai kaki saya, dan melepuhlah kaki saya.Bekas itu masih ada sampai sekarang. Ketika melihat bekas itu, masih teringat peristiwa 25 Tahun lalu.

Masa Sekolah.

Ketika teman-teman sebayanya berangkat sekolah, saya masih dirumah.belum sekolah. Padahal umur saya pada waktu itu sudah 7 tahun lebih. Kaki saya sakit, akibat tetesan jenang ala bikinan ibu tadi. Disamping juga kedua orang tuaku belum bisa membelikan pakaian sekolah. Alhasil saya baru masuk sekolah SD pada umur 8 Tahun, saya adalah murid Senior di sebuah SD Negeri di Satu desa dikecamatan Grabag. Selama masa sekolah,saya jalani dengan biasa layaknya anak2 dusun bersekolah pada waktu itu. Tidak pakai sepatu, jalan kami 2-3 Km tiap hari pulang pergi. Buku dimasukan Tas Kresek warna Hitam. Dan masih teringat , setiap pulang sekolah, kami selalu mencari buah alpokat yang jatuh dari pohon diladang yang kami lewati pulang pergi sekolah, dan kadang juga mencuri alpokat itu.

Tapi satu hal yang membanggakan, walaupun saya anak dusun, di kelas 4 saya dan 2 teman dipercaya mewakili sekolah untuk ikut lomba Cerdas Cermat di Gugus, dan menang. Saya dan teman-teman dikirim ke Kota kecamatan, yang mungkin bagi kebanyakan orang Kota kecamatan adalah biasa. Tapi bagi saya itu adalah kesempatan bagi saya untuk bisa melihat kota hehehe ( Malu rasanya …) karena belum tentu setahun sekali saya bisa pergi ke Kota. Dan dikelas 6 pun, saya juga sempat mewakili kota kecamatan untuk lomba Matematika dikabupaten magelang. Dasar wong ndeso, sampai di kota kabupaten, ternyata saya tidak punya banyak nyali untuk menatap mereka yang cukup rapid an gemuk2, tapi Alhamdulillah meski tidak dapat juara setidaknya saya sudah masuk final.Dari sejak itu saya sangat terkenal didesa.

Sewaktu saya sekolah SD, Orang tuaku juga sedang membiayai sekolah kakak-kakakku.Masih teringat dan tergambar dengan jelas, betapa kurusnya kedua orang tuaku, betapa Rombengnya pakaian kedua orang tuaku, Celana, baju yang dipakai bapakku lubang sobeknya tidak lebih sedikit dari Lubang Kancingnya. Kami hanya punya beberapa baju. Pernah ketika harus menghadiri undangan, bapakku tidak punya baju yang pantas untuk dipakai. Bapak sedih menahan air mata, dan mau gak mau harus pinjam tetangga. Satu hal yang tidak bisa kami lupa, betapa tetanggaku menghina sedemikian rendah kepada orang tuaku.

“ Wis Ngerti kere” ngopo nyekolahke duwur –duwur” ( sudah tahu miskin, mengapa menyekolahkan tinggi2). Didesa kami, SMA itu sudah sangat tinggi.

Tibalah saya lulus SD dengan nilai yang sangat bagus. Pada waktu itu saya pingin meneruskan sekolah ke SMP di tetangga desa saya. Tapi kedua orang tuaku hanya diam. Saya tahu bapakku tidak punya kemampuan untuk biaya say adi SMP. Tapi saya nggak tahu, saya begitu membabi buta ingin meneruskan. Saya marah, saya sempat minggat. Selama beberapa hari. Tapi saya juga bingung mau kemana tujuan saya.akhirnya saya kembali dan luluh. Bapak berjanji untuk memasukan sekolah tahun depan.Umur saya pada waktu itu sudah 14 Tahun ( isin hehehe).

Selama saya tidak sekolah, saya lebih banyak membantu bapakku, membuat anyaman bamboo, ngusungi lemen ( pupuk kandang ) dll. Tahun berikutnya, bapakku menepati janjinya untuk memasukan aku ke SMP. Umurku pada waktu itu sudah 15 Tahun. Jadi anak2 seusiaku harusnya masuk SMA, saya baru masuk SMP. Ketemu teman baru, dan hari-hariku biasa saja tidak ada yang lebih atau istimewa.

Di SMP ini, syukur Alhamdulillah saya mendapat beasiswa supersemar, bea siswa bagi anak2 yang kurang mampu. Satu kenangan, bahwa baju dan celana seragam saya hanya punya satu. Seminggu baju itu saya pakai, kadang ketika kotor maka harus saya cuci dan besoknya harus kering dan dipakai lagi. Pernah satu ketika, baju saya kotor . tetapi pada waktu itu adalah musim penghujan. Jika saya cuci kawatir tidak kering. Maka baju itu tidak saya cuci dan saya pakai keesokan harinya. Alhasil baju itu bukan lagi warna putih, tapi sudah mulai Kuning.

Masuk STM Pembangunan

Saya lulus SMP tahun 1995, dengan nilai yang sangat bagus, dengan peringkat yang tidak kalah dengan mereka yang bersekolah dikota. Pada waktu itu, sama seperti halnya ketika lulus SD, sekarangpun saya pingin melanjutkan ke SMA, tapi bapakku sudah benar-benar tidak mampu biayanya . penghasilan seorang buruh tani, untuk makan anak2nya pun tidak cukup. Saya nggak mau tahu, saya kecewa. Dan ada satu kejadian yang mungkin kalo saya ingat, saya benar-benar malu dan menyesal. Saya mengancam jika tidak disekolahkan, maka adik saya akan saya cekik. Pada waktu itu adik saya masih kecil, dan lehernya sudah saya pegang.

Bapakku luluh waktu itu, sambil menahan tangis. Saya tahu itu. Bapakku berkaca-kaca. Tapi bapakku tak pernah memperlihatkan airmatanya didepan anak-anaknya. Bapakku menyanggupi untuk memasukan sekolah tahun depannya. Saya menyadari itu. Selama masa penantian, saya harus banyak menabung. Saya bekerja apapun. Saya menjadi tenaga kerja anak2. Meski temen-temen yang lain bisa main laying-layang, saya ad adi ladang. Mbedol telo, ngarit dst.

Saya juga membuat anyaman bamboo sendiri, saya kerjakan sampai malam. uangnya saya kumpulkan buat daftar bisa masuk SMA waktu itu. Selama setahun menabung, terkumpul sekitar 600 rb. Ada informasi dari kakak saya, kalo mau nerusin sekolah mending ke STM Pembangunan Temanggung saja. Akhirnya dengan keberanian dari anak desa ( nekad sih sebenarnya.. ) saya ke temanggung sendirian.memakai pakaian ndeso dan sandal butut. Saya ditolak masuk ke STM pada waktu itu, karena semua harus pakai sepatu, dan saya tidak punya sepatu.Tapi Alhamdulillah ada seorang yang berbaik hati meminjamkan sepatunya ( Mas Andreas Kurniawan- terimakasih mas). Dan saya pakai sepatu itu untuk proses pendaftaran ku di STM Pembangunan. Umurku pada waktu itu sudah 18 Tahun.

Kejadian penghinaan kepada kedua orang tuaku terulang lagi, ketika tahu aku mendaftarkan sekolah di Stemba ini. “ Mbah, mbok yo sampeyan ngukur kekuatane. Sampeyan ora kuat nyekolahke nang STM Temanggung ( Mbah, berkacalah., sampeyan tidak mampu menyekolahkan ke stm). Bapakku diam, dan saya juga mengerti bahwa ada mata yang merah dan berkaca-kaca. Saya diterima sekolah, dan mengambil jurusan THP.

DI STM Pembangunan

Selama di STM Pembangunan, hariku biasa-biasa saja. Karena memang saya murid yang biasa-biasa saja. Dengan penampilan yang ndeso, dan tidak modern sama sekali ( memang tidak punya ….) saya menjadi murid yang cenderung tidak terkenal. Atau mungkin murid Marginal ( Perasaan ku aja sih ..).Hari-hari saya habiskan untuk belajar, dan setelah pulang sekolah , mencari rumput buat sapi-sapi dibelakang STM. Tidurpun saya jug adi mess STM samping kandang sapi.Praktis saya tidak punya kesempatan untuk bisa bermain dengan teman-teman seangkatan. Tidak ada Kenangan yang Istimewa. Semua biasa saja.

Tidak punya banyak cerita ketika sekolah di Stemba, karena cerita itu begitu monoton dan selalu membutuhkan energy untuk menjalaninya. Pernah satu ketika di mess belakang STM, Beras habis, bumbu habis, duit sudah tidak punya sepeserpun. Mau pulang tidak punya uang. Mau makan apalagi. Satu-satu yang ada waktu itu hanya ada sebotol minyak goring, garam dan bawang merah. Karena desakan perut yang keroncongan akhirnya saya ambil daun singkong dan daun keladi waktu itu, jadilah sayur daun singkong dan keladi. Seharian aku makan sayur daun singkong dan keladi itu. Rasanya gak karuan.karena hanya bawang merah dan garam.

Iseng-iseng, pada waktu itu buah rambutan di belakang juga berbuah lebat. Saya ambil, buahnya saya makan. Bijinya saya goreng, rasanya gurih seperti kacang belinjo. Tapi ternyata saya pusing setelah makan kacang biji  Rambutan. Saya pusing dengan sangat, saya rasakan sendiri.Saya mabuk Kacang biji Rambutan. Saya terkapar sendirian. Saya lalui di Sekolah seperti biasa, jadi murid biasa dan jadi orang biasa. Kesulitan keuangan bukan lagi menjadi satu beban bagi saya, karena itulah satu-satunya beban saya yang selalu saya bawa yang pada akhirnya menjadi sangat terbiasa,menjadi seperti terlupakan.

Satu hal, saya cukup aktif di kegiatan Takmir Al-huda waktu itu. Meski keberadaanku juga tidak wajib, atau sunah. Ada tidaknya aku tidak ada masalah. ( Mungkin saya saja yang sok merasa dibutuhkan.) Di STM ini saya juga mendapat beasiswa Supersemar, beasiswa untuk anak2 yang miskin seperti saya.

Pada tahun ke empat, waktunya saya mengikuti PI sebagai syarat kelulusan saya. Karena saya bukan murid terkenal, maka saya agak sulit mendapatkan informasi lebih cepat dari teman –teman lain. Alhasil saya harus PI di Jawa Barat. Biayanya cukup mahal. Saya ngomong kepada bapakku. Bapakku diam tidak mengiyakan atau menolak, tapi saya tahu dia sedang berpikir darimana dapat duit segitu banyaknya.

Cari utang sana-sini, yang didapatkan adalah cacian dan makian, dan nasehat yang sebenarnya tidak kami butuhkan.Yang bapak butuhkan adalah duit untuk bekal saya PI. Akhirnya bapak menjual tanah yang hanya tinggal separo, yang separo sudah dijual untuk biaya sekolah kakak saya. Uang dikasihkan ke saya, sambil bilang” Le, iki yang pungkasan, nek sawise iki. Kok peres maneh bapaku iki ra bakal metu keringete maneh. Saya diam, saya tahu perjuangan bapak sangat berat untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya. Lulus Sekolah dan Cari kerja.

Tahun 2000, saya lulus dari STM pembangunan dengan nilai juga biasa saja.Umurku saat itu sudah 22 tahun. Teman-teman sebayaku baru 18-19 tahun. Saya murid paling senior lagi. Sebenarnya selama sekolah,dengan umurku yang sudah tua, saya punya rasa suka kepada seoran wanita temen sekolah, yang mungkin bagi saya sangat tinggi perbedaannya. Rasa itu saya pendam dan tak pernah saya ungkap, semua itu karena kondisi saya pada waktu itu sangat-sangat miskin dan tidak mungkin mengatakan semuanya ( ah biarlah itu menjadi rahasia pribadiku…)

Setelah lulus saya pulang ke dusun, kembali menjalani hari-hariku seperti biasanya orang dusun, bantu bapak buat anyaman bamboo, buruh mencabut ketela pohon, mencari rumput atau yang lain. Jarakku ke sekolah sekitar 40 Km. Cukup jauh dan butuh biaya agar saya bisa ke sekolah untuk cari informasi lowongan pekerjaan. Dan biaya itu tidak ada. akhirnya informasi itu selalu kedahuluan temen-temen lain yang  jaraknya lebih dekat atau yang duitnya banyak.pernah beberapa kali test untuk kerja, tapi beberapa kali jug adi tolak. Entah apanya saya kurang tahu. Mungkin wajah saya tidak meyakinkan sama sekali dengan kata-kata saya. Begitu ndeso wajah saya.

Dirumah ternyata juga tidak nyaman, omongan tetangga yang mencemooh” akhire yo bali asal, gawe kranjang. Jare sekolah duwur2  ra ono gunane”. Tidak Kuat dengan omongan itu, saya akhirnya bekerja apapun kerjanya. Saya jadi Kernet Tronton, truk pasiran merapi atau kuli muat dipelabuhan, saya jalan selama hampir 6 bulan. Badan saya yang kecil, hitam, dengan wajah yang ndeso dan imbas imbis, semakin menjadi-jadi, tambah item, tambah kurus dan semakin imbas-imbis.

Lebaran tiba, saya berusaha untuk mengkontak yang dulu  teman disekolah,dia lulus langsung bekerja ( namanya Puji Ermanto ). Dan saya ditawari ikut dia, dan Alhamdulillah sayapun berangkat dengan dia ke Kota di jawa timur, dengan biaya utang pada waktu itu. Begitu takjub saya sesampai di kota itu, mungkin dulu saya melihat kota temanggung sudah sangat gemerlap, tetapi sekarang lebih gemerlap. Ada rasa minder dan takut kala itu. 3 hari say adi tempat kost temen saya, saya dapat panggilan test dan segera masuk kerja. Syukur Alhamdulillah saya bisa bekerja di pabrik. Apa yang selama 4 tahun di temanggung ada gunanya akhirnya.

Saya jalani semuanya seperti biasa, 1.5 tahun. Dan tiba lagi sesuatu yang harus saya alami dengan menguras energy. Saya di PHK.Jam 11.00 saya dipanggil ke ruang Personalia, jam 12.00 saya sudah bukan karyawan lagi.Uang Pesangon langsung di berikan.

Masa Nganggur di Perantau.

Setelah di PHK, keseharian saya dihabiskan untuk baca Koran, cari lowongan. Buat lamaran, afdruk foto. Setelah itu paginya, keliling pabrik-pabrik memohon belas kasihan dari setiap satpam agar mau dititipi surat lamaran kami. Kami berdua dengan teman saya se PHK an( inisial AM ), sekomplek perindustrian seluas hampir 10 km2 kami susuri dengan jalan kaki. Sambil membawa tas yang didalamnya adalah bertumpuk Lamaran.

Kecapekan, pingin nangis dan sebagainya campur aduk jadi satu.saya dan temanku istirahat di bawah pohon asem, sambil menikmati es campur waktu itu. Saya dan teman saya ketiduran hampir 1 jam lebih, dibawah pohon itu. Benar-benar seperti gelandangan. Tapi, mungkin itulah cara Allah menentramkan hatiku sejenak melupakan bebanku. Saya dan teman saya memang berkomitmen untuk tidak bilang kepada Orang tua kami didusun, bahwa sekarang kami menderita atau sekarang kami di PHK. Nanti setelah dapat Kerjaan lagi baru akan belang ke Orang tua akan hal sesungguhnya.

Satu bulan saya menganggur di perantauan tanpa seseorang yang mengarahkan saya. Hanya saya memang ndak suka melas-melas. Pengalaman melas-melas selalu berujung cemoohan.Hanya allah tempat mengadu. Tepat tanggal 25 Juli 2002, saya resmi diterima bekerja di perusahaan baru. Tapi saya minta ijin untuk pulang dulu, bilang sama bapakku dan juga minta doanya, bahwa saya pindah perusahaan.

Dan itu saya jalani sampai sekarang, sudah lebih dari 10 tahun.

Dari seorang pelaksana di lapangan, dari Grade 0 sampai Grade 7 saya jalani selama 9 tahun, praktis setiap kenaikan Grade saya jalan selama 1 ¼ tahun. Sesuatu yang luar biasa menurut saya, yang mungkin bagi kebanyakan orang itu adalah wajar. Tapi itu bagi saya adalah anugerah. Dari dulu yang mikir besok makan apa tidak, dan sekarang saya mau makan apa ya ?

Ucapan terimakasih

Semua itu tidak terlepas dari setiap titik yang telah saya lalui dan saya rasakan, ucapan syukur dan terimakasih saya kepada semuanya yang telah membentuk saya menjadi pribadi yang tahan banting, tidak takut resiko dan mungkin mempunyai jiwa  untuk bisa memimpin orang lain.

Syukur dan terimakasih saya kepada Allah, yang telah mengindahkan akhir dari setiap titik- kehidupanku yang saya lalui dengan cukup menguras energy, dan menjadikan titik-titik itu terhubung  menjadi gambar yang cantik dan indah.

  • Bapakku dan Ibuku, Engkau adalah pahlawanku. Motivasimu untuk mendidik anak-anakmu sungguh luar biasa. Pengorbananmu untuk anak-anak mu lebih daripada orang tua yang lain. Kau sanggup menahan cacian, cemoohan dan nasehat  cibiran, semua demi anak-anakmu. Engkau Juga menjadi inspirator Hidupku. Akan aku teruskan Semangatmu untuk anak-anakku.
  • STM Pembangunan Temanggung dan para guru-guruku, terimakasih telah mendidik dan memberikan jalan untuk semua titik-titik kehidupanku, tak kan terlupa bahwa ini semua adalah bagian dari gambar yang indah itu.
  • Para tetanggaku, terimakasih kalian telah menghinaku, dan mencemoohkanku sehingga hari ini saya telah menjadi manusia, manusia yang beda dengan 20 tahun lalu. Tanpa cemoohan itu, mungkin saya hanya akan menjadi orang biasa saja, tidak dikenal. Menjadi orang mubah.
  • Terimakasih semua teman-temanku di Mess Belakang, ada Mas Muwardi yang cempluk, Mas Zarman Prasetyo yang tangannya methekel, dan Mas Sukarman yang Gantheng. Kalian adalah teman-teman seperjuangan. Bagaimana kabar kalian? Sungguh jika ada kesempatan saya pingin ketemu.


Diposting pada: 2014-05-10, oleh : Admin, Kategori: Informasi Alumni
Print BeritaPrint PDFPDF



Ada 0 komentar untuk berita ini
Tinggalkan Komentar

Nama *
Email * tidak akan diterbitkan
Url  masukkan tanpa http:// contoh www.rubrik.web.id
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas